Kegiatan Rutin di Musim Kemarau, Warga Sikka Beli Air Untuk Memenuhi Kebutuhan Sehari-Hari

oleh -253 Dilihat
oleh

Mobil tanki yang sedang melayani pesanan air minum di Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

MAUMERE – Sejumlah warga Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, yang terdampak kekeringan mulai disibukkan dengan mencari air bersih.

Mereka harus membeli air tangki mulai dari harga Rp 100.000 hingga Rp 500.000 per satu tangki. Harga ini berdasarkan jarak tempuh ke sumber air. Sehingga untuk setiap musim kemarau warga sudah menyiapkan uang untuk membeli air tangki. Untuk mengatasi kekeringan ini warga harus benar-benar menghemat penggunaan air.

“Bagi warga yang mempunyai uang, mereka membeli air tangki untuk diisi di bak penampung yang sudah disiapkan puluhan tahun untuk menampung air hujan. Namun bagi yang tidak punya modal cukup, warga kadang berombongan ke sumber air lain, dengan membawa jerigen,” tutur Maria Feneranda, warga Dusun Wolomude, Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, dilansir florespedia, Sabtu (09/10).

Feneranda mengakui, setiap tahun, saat musim kemarau, warga Desa Teka Iku harus berjuang untuk mendapatkan air sekadar buat keperluan sehari-hari, seperti minum, mandi, cuci, dan lain-lain.

“Saat musim kemarau kami mulai mencari air bersih dengan membeli air tangki. Begitu juga dengan desa-desa yang lain yang saat ini mengalami kekurangan air bersih. Ada juga sebagian mencari air bersih di sumber mata air seperti halnya yang sedang kami alami di Desa Teka Iku” kata Feneranda.

Untuk kebutuhan air bersih di musim kemarau, kata Feneranda , biasanya mereka membeli air tangki mencapai 5 hingga 6 tangki. Meski pemakaian air sudah lebih dari hemat tetap saja masih kekurangan air bersih.

“Entah sampai kapan masalah air bersih ini keluar dari Desa Teka Iku. Karena wilayah Desa Teka Iku ada beberapa sumber mata air tapi mengalir hanya saat musim hujan saja,” ujarnya.

Dominikus (54) mengatakan puluhan tahun lalu sebelum adanya bak Penampung Air Hujan (PAH), warga sekitar Desa Teka Iku mengkonsumsi air pisang. Namun sekarang jauh lebih baik.

“Kalau dulu saat jalan belum baik, mobil tangki tidak bisa masuk. Kami terpaksa minum air dari batang pisang atau pohon ara, tapi sekarang tidak lagi karena kami sudah bisa beli air tangki,” ujarnya.

Salah satu penyedia air bersih yaitu di Wair werut, Desa Namang Kewa, Kecamatan Kewapante mengatakan saat musim kemarau, puluhan mobil tangki mulai mengambil air bersih.

“Mulai bulan Juli lokasi ini mulai ramai. Mobil-mobil tangki mulai membeli air untuk menjual ke warga masyarakat yang kekurangan air bersih. Biasanya satu hari mencapai 50 mobil tangki,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Sikka, Muhammad Daeng Bakir menjelaskan bahwa hingga Oktober 2021 tercatat sebanyak 72 desa di 17 kecamatan minus 4 kecamatan sudah mulai mengalami dampak kekeringan

“Saat ini data yang masuk ada 72 desa yang tersebar di 17 kecamatan terdampak kekeringan. Kita sudah mulai dengan pendistribusian air bersih,” kata Daeng Bakir.

Ia berharap kepada seluruh camat, lurah dan kepala desa agar segera mendata seluruh potensi kekeringan yang terjadi di wilayahnya masing-masing dan dilaporkan kepada BPBD untuk segera ditindak lanjuti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *