Cegah Sunting, Melki Laka Lena Ajak Masyarakat Budayakan IMD & ASI Ekslusif di 1000 HPK

oleh -148 Dilihat
oleh

SABU – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif dapat mencegah pertumbuhan anak kerdil (Stunting).

“Saya ini mau dorong terus orang-orang NTT ini untuk mulai membudayakan, membiasakan diri untuk inisiasi menyusui dini. Tolong untuk para ibu hamil harus pahami tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan cara mendekatkan bayi ke perut ibunya agar bayi bisa bergerak sendiri menuju puting susu ibunya, karena IMD ini juga secara otomatis mengikat hubungan batin antara ibu dan anaknya semakin kuat dan juga air susu ibunya yang pertama itu memiliki gizi dan imunitas yang tinggi untuk bayi dan juga bisa memperlancar ASI sehingga kita punya anak-anak ini lebih sehat dan kuat, karena Inisiasi menyusui dini dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dapat mencegah stunting,” ungkap politisi golkar yang akrab disapa Melki Laka Lena ini saat kegiatan kampanye perceapatan penurunan stunting bersama BKKBN NTT di GMIT Maranatha, Kelurahan Lorai, Kecamatan Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua, Sabtu (30/9/2023).

Menurut Melki Laka Lena, selain pemberian IMD dan pemberian ASI eksklusif, penanganan stunting juga dapat dapat dilakukan dengan pemberian gizi yang baik pada ibu hamil agar bayi yang lahir sehat.

“Jadi selama kita disini ada makanan yang bergizi tolong dimaksimalkan dengan baik untuk dibuat makanan bergizi bagi anak – anak kita yang hamil atau istri kita hamil. Pokoknya kalau dalam rumah itu selama ada ibu hamil dalam rumah utamakan yang kasih makanan makanan dulu itu anak – anak kita yang lagi hamil. Bagi suami – suami tolong kasih istri makanan duluan. Jangan biarkan ibu hamil dan balita kekurangan gizi karena akan menyebabkan bayi dalam kandungan juga kekurangan gizi sebab sumber makanan bergizi bayi hanya melalui ibunya,” Pesan Melki Laka Lena.

Diakhir materinya Ketua Golkar NTT ini juga meminta masyarakat Sabu Raijua untuk menyukseskan sidang Sinode GMIT ke-35 di Kabupaten Sabu Raijua pada bulan oktober ini sekaligus menjadi tuan rumah yang baik.

Fitri Dwi Susanti, Fungsional Arsiparis perwakilan BKKBN provinsi NTT menjelaskan, sesuai Perpres 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, dimana BKKBN ditunjuk sebagai kordinator nasional dalam menangani penurunan stunting. Namun pada kinerjanya dibutuhkan kerja sama lintas sektor intervensi spesifik dan sensitif, sedangkan BKKBN sendiri fokus pada intervensi sensitif khususnya pencegahan stunting melalui program keluarga berencana.

“BKKBN mencoba bekerja mulai dari hulu, melalui perogram keluarga berencana dengan menggunakan alat kontrasepsi untuk menghindari 4 terlalu, yaitu: terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu dekat, jarak melahirkan nya. Supaya jagan sampai ada lagi Bayi yang lahir dengan stunting baru,” ujar Fitri.

Perwakilan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sabu Raijua, Kristina Uba Ola menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menargetkan jumlah balita stunting di Sabu Raijua turun menjadi 10 persen di tahun 2023. Ia mengatakan, sesuai hasil operasi timbang dilakukan pada Agustus 2022 penderita stunting di Kabupaten Sabu Raijua berjumlah 1.400 anak atau 18,05 persen, namun berdasarkan hasil operasi timbang pada Februari 2023 jumlah anak stunting mengalami pengurangan menjadi 1.392 orang anak atau 17,12 persen sehingga terjadinya penurunan sekitar satu persen.

“Jumlah anak yang masih terkategori stunting mencapai 1.392 orang anak sehingga menjadi fokus perhatian pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam menangani stunting sehingga daerah itu bisa bebas dari status stunting,” jelas Kristina Uba Ola. (Igo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *