Pemda Sabu Raijua Sajikan Deretan Inovasi dan Solusi Tekan Stunting

oleh -99 Dilihat
oleh

SABU – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena disajikan paparan mengenai beragam inovasi itu ketika bersama mitra kerjanya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTT melakukan kampanye percepatan penurunan stunting untuk masyarakat di Gereja GMIT Jemaat Ebenhaezer Eilode, Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Sabtu (25/5/2024).

Beragam program dan inovasi dilakukan Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) untuk menekan laju prevelensi stunting di wilayah itu.

Melkiades mengapresiasi kepada Pemda Sabu Raijua dengan sejumlah inovasi yang dilakukan untuk menekan jumlah stunting tersebut.

Ia mengatakan, untuk mencegah stunting maka perlu menghindari 4 Terlalu. “Dua telalu terkait dengan usia, hindari kelahiran pada ibu yang terlalu muda atau terlalu tua. Usia ideal ibu melahirkan pada rentang 21-35 tahun.

Usia melahirkan terlalu muda, tulang panggul perempuan yang berusia di bawah 20 tahun belum siap untuk proses melahirkan.

Sedangkan, usia kelahiran terlalu tua, seorang ibu rentan mengalami preeklamsia atau pecah ketuban dini.

Dua terlalu lain dalam mencegah stunting yaitu menghindari jarak melahirkan terlalu dekat dan terlalu banyak jumlah anak. Jarak terbaik untuk anak yakni lima kali masa kehamilan atau kira-kira 4-5 tahun,” jelasnya.

Laka Lena juga mengingatkan para suami untuk lebih memprioritaskan kesehatan istri yang sedang hamil dan menyusui. Dia menegaskan pentingnya peran suami atau laki-laki dalam memastikan kesejahteraan keluarga, terutama menyediakan makanan bergizi dan menghindari konsumsi minuman keras (miras) dan rokok.

“Bagi para suami, terutama yang memiliki istri hamil, adalah kewajiban untuk bekerja keras mencari uang demi kebutuhan keluarga, terutama untuk makanan sehat dan bergizi. Harus siapkan ikan, daging, telur, dan susu untuk memenuhi kebutuhan gizi istri yang sedang hamil dan juga hindari miras dan rokok, karena dapat berdampak buruk pada kesehatan istri dan bayi yang dikandungnya,” tegasnya.

Selain itu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTT, Dadi Ahmad Roswandi  mengatakan stunting disebabkan faktor multidimensi seperti praktek pengasuhan yang tidak baik, kurangnya akses makanan bergizi, terbatasnya layanan kesehatan termasuk ANC, post natal dan pembelajaran dini yang berkualitas dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Untuk mengatasi Stunting, Dadi Ahmad Roswandi mengatakan, intervesi paling menentukan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Ia juga mengingatkan semua pihak untuk kerja bersama mencegah stunting karena memiliki dampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia, produktifitas dan daya saing.

Tampak warga sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut yang turut dihadiri oleh Ketua IIPG NTT Ny. Asty Laka Lena, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Simon Dira Tome dan para tokoh Masyarakat lainnya.

Sementara itu di Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua sedang berlangsung  kegiatan INOVASI HATI SARAI (He lau AdeTu Ie Sabu Raijua) atau sehati demi kebaikan bersama dalam menanggulangi stunting di Sabu Raijua,” sebut Kadis Penggerak dan Ketahanan Keluarga OPDKB Kabupaten Sabu Raijua, Thobias Mesak dalam acara tersebut.

Dijelaskan Thobias, Inovasi Hati Sarai itu meliputi gerakan keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai OPD asuh  balita stunting. “ 1 OPD mengasuh  jumlah balita stunting dalam 1 desa lokus yang dilaksanakan  di posyandu dan kunjungan rumah dengan intervensi PMT  balita Stunting Usia 0-23 Bulan,” sebut Thobias.

Selain itu menurut Tobias, ada Inovasi “Sabu Kasih” yaitu Sayang Ibu, Kibarkan Bendera Selamatkan Ibu Hamil dan Inovasi Kecap Pedis atau Kelas Edukasi Calon Pengantin dan Periksa Dini Resiko Stunting yang dilaksanakan pada satu titik sesuai kesepakatan (1 Kecamatan, 1 KECAP PEDIS) dalam periode 3 Bulan sebelum menikah (1 Kali/Bulan). (Igo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *